Pernah nggak sih kamu ngerasa, gaji baru masuk tapi kok cepat banget habisnya? Kelihatannya nggak beli barang “aneh-aneh”, deh. Tahu-tahu tagihan kartu kredit datang, paylater numpuk, cicilan jalan terus.
Kalau iya, tenang… hal semacam itu ada penjelasan dan solusinya, kok.
Utang konsumtif itu jebakan yang halus sekaligus pelan-pelan menggerogoti.
Nggak datang dengan niat jahat, malah sering dibungkus dengan kata-kata manis: “promo”, “diskon”, “cuma cicilan kecil”, atau “reward buat diri sendiri”.
Tanpa sadar, banyak orang akhirnya terjebak dalam lingkaran utang yang bikin napas finansial makin sesak.
Yuk, kita bahas pelan-pelan, apa saja 5 alasan paling umum kenapa hal ini bisa terjadi!
1. Gaya Hidup Lebih Tinggi dari Kemampuan Finansial
Ini alasan klasik banget.
Banyak orang ingin hidup “terlihat mampu”, meski kondisi keuangannya belum sampai ke sana. Beli barang cuma karena ingin terlihat setara dengan lingkungan sekitar.
Ibarat kata, besar pasak daripada tiang.
Media sosial punya peran besar di sini. Lihat orang liburan, ganti gadget, nongkrong fancy, tanpa sadar kita ikut membandingkan hidup sendiri.
Akhirnya muncul pikiran, “Masa aku nggak bisa?”. Lalu keputusan finansial diambil pakai emosi, bukan logika.
Padahal kemampuan finansial tiap orang berbeda. Memaksakan gaya hidup cuma bikin utang jadi solusi instan. Dan solusi instan biasanya punya efek samping. Sepakat?
2. Kemudahan Akses Kredit yang Terlalu Menggoda
Sekarang, mau berutang itu gampang banget.
Tinggal klik, verifikasi cepat, lalu dana pun cair.
Mulai dari paylater, kartu kredit, sampai pinjaman online, semuanya hadir dengan tampilan ramah dan bahasa santai.
Masalahnya, kemudahan ini sering bikin kita lupa risiko. Cicilan kecil terasa ringan, tapi kalau dikumpulkan dari banyak transaksi, jumlahnya bisa bikin kaget di akhir bulan.
Banyak orang baru sadar terjebak utang saat total cicilan sudah menggerogoti sebagian besar penghasilan.
Percaya, deh, rasa “cuma sedikit” itu sering jadi awal masalah besar.
3. Kurangnya Literasi Keuangan Sejak Dini
Nggak semua orang pernah diajari cara mengelola uang dengan benar.
Banyak yang tumbuh tanpa pemahaman soal anggaran, prioritas, atau perbedaan antara utang produktif dan konsumtif.
Akibatnya, utang dianggap hal biasa selama masih bisa dibayar. Padahal, kemampuan membayar belum tentu berarti sehat keuangannya.
Kalau tiap bulan kerja cuma buat nutup cicilan, itu tanda ada yang perlu dibenahi.
Yang seling kaprah juga, literasi keuangan bukan berarti pelit. Seseorang justru diajak bijak mengambil keputusan. Tanpa pengetahuan ini, orang mudah terjebak pola “gali lubang, tutup lubang”.
4. Menggunakan Utang untuk Mengelola Emosi
Tanpa disadari, banyak keputusan belanja diambil saat emosi sedang nggak stabil. Entah stres, sedih, capek, atau butuh pelarian. Beli barang pun jadi bentuk “self-reward” instan.
Masalahnya, rasa senang dari belanja semacam itu bersifat sementara.
Tagihannya? Datang belakangan, tapi lebih lama mengendapnya. Pada akhirnya, muncul stres baru karena uang menipis, dan siklusnya berulang.
Apabila belanja jadi cara utama untuk mengatasi emosi, utang konsumtif hampir pasti mengikuti. Iya, kan?
5. Tidak Punya Tujuan Keuangan yang Jelas
Tanpa tujuan, uang cenderung “mengalir ke mana saja”. Orang yang nggak punya target keuangan biasanya lebih mudah tergoda pengeluaran impulsif.
Sebaliknya, orang yang punya tujuan biasanya lebih berhati-hati sebelum berutang. Ada yang niatnya menyimpan dana darurat, tabungan rumah, atau bahkan investasi.
Mereka bertanya dulu, “ini menghambat tujuan gue nggak?”
Tujuan keuangan itu seperti kompas. Tanpanya, utang konsumtif jadi jalan pintas yang terasa nyaman, tapi arahnya sering salah.
Ganti Kebiasaan Perlahan
Utang konsumtif bukan soal nggak pintar atau kurang kerja keras. Sering kali, ini erat kaitannya dengan kebiasaan, tekanan lingkungan, maupun kurangnya kesadaran finansial.
Kabar baiknya, kebiasaan bisa diubah. Kesadaran bisa dilatih. Dan pelan-pelan, hubungan dengan uang bisa jadi lebih sehat.
Nggak perlu ekstrem, yang penting mulai jujur sama diri sendiri.
Tertarik dengan bahasan keuangan, gaya hidup, isu sosial, dan topik sehari-hari yang dekat dengan realita? Kamu bisa temukan lebih banyak artikel relevan di pulsebriefs.com.
Kadang, satu bacaan bisa jadi awal perubahan cara pandang.






Leave a Reply