Ngaku aja, kata demokrasi sering terdengar kayak sesuatu yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Iya, nggak?
Identik dengan gedung besar, rapat panjang, debat panas, dan tokoh-tokoh yang mukanya itu-itu lagi.
Kalau dipikir-pikir, demokrasi itu sebetulnya justru hidup dari hal-hal kecil yang sering kita lakukan, lho. Terutama oleh generasi muda.
Percaya atau nggak, anak muda punya posisi yang sangat strategis. Jumlahnya besar, suaranya kencang (apalagi di media sosial), dan pengaruhnya luas.
Jadi kalau generasi muda cuek, demokrasi ikut melempem.
Tapi kalau generasi muda peduli? Wah, efeknya bisa ke mana-mana. Sepakat?
Nah, biar nggak cuma jadi wacana, ini di antara 4 peran nyata generasi muda dalam menentukan arah demokrasi ke depan!
1. Melek Politik dan Isu Publik, Bukan Asal Ikut Ramai
Di era sekarang, informasi itu deras banget. Tiap hari ada isu baru, opini anyar, bahkan “kebenaran versi up-to-date”.
Kalau nggak hati-hati, kita bisa kebawa arus tanpa benar-benar paham apa yang sedang terjadi.
Melek politik bukan berarti harus jadi ahli atau aktivis garis keras. Tenang, nggak sejauh itu.
Yang namanya melek politik itu bisa dilakukan dalam bentuk sederhana. Entah mau belajar, ingin baca, dan berpikir sebelum berkomentar atau menyebarkan sesuatu.
Misalnya, sebelum share berita yang bikin emosi, kita cek dulu sumbernya. Sebelum ikut marah, kita pahami duduk perkaranya.
Kelihatannya mungkin sepele. Namun ini fondasi demokrasi yang sehat. Iya, kan? Demokrasi tanpa warga yang kritis itu gampang dibelokkan.
Generasi muda punya kelebihan cepat belajar dan terbuka pada sudut pandang baru. Kalau potensi ini dipakai dengan benar, dampaknya besar banget.
2. Menggunakan Hak Pilih dengan Kesadaran, Bukan Sekadar Gugur Kewajiban
Masih banyak anak muda yang menganggap memilih itu cuma formalitas.
Datang ke TPS karena disuruh orang tua, atau malah nggak datang sama sekali karena merasa suaranya nggak penting.
Faktanya, satu suara itu punya arti, apalagi kalau dikumpulkan dari jutaan anak muda. Golongan muda sering jadi penentu, terutama di pemilu dengan selisih tipis.
Menggunakan hak pilih dengan sadar artinya kita tahu apa yang kita pilih dan kenapa kita memilih.
Bukan karena ikut tren atau ada tekanan, melainkan murni pertimbangan pribadi. Percaya, deh, sikap ini yang bikin demokrasi naik level.
Kalau belum nemu pilihan yang ideal? Tetap belajar, kritis, dan, hadir.
Absen juga sebuah pilihan, dan biasanya, itu pilihan yang merugikan diri sendiri.
3. Aktif di Ruang Publik dan Media Sosial dengan Cara yang Bertanggung Jawab
Sekarang ruang demokrasi nggak cuma ada di dunia nyata, tapi juga di dunia digital. Media sosial jadi tempat diskusi, debat, kritik, bahkan perlawanan.
Dan siapa penghuninya paling banyak? Yap, anak muda.
Di sinilah peran penting generasi muda agar menghidupkan diskusi yang sehat, bukan cuma adu emosi. Nggak harus selalu serius atau kaku.
Bisa lewat meme, video pendek, thread ringan, atau obrolan santai. Asal isinya punya arah.
Berpendapat itu hak, tapi menyampaikan pendapat dengan tanggung jawab itu pilihan.
Demokrasi akan jauh lebih kuat kalau anak mudanya berani bicara sekaligus mau mendengar. Sepakat?
4. Mengawal, Mengkritisi, dan Terlibat Setelah Pemilu Usai
Banyak orang mengira demokrasi selesai setelah pencoblosan. Padahal justru setelah itu, tugas warga negara dimulai.
Pemerintah yang terpilih perlu diawasi, dikritisi, dan didukung saat benar.
Generasi muda bisa berperan lewat banyak cara. Mulai dari ikut komunitas, diskusi kebijakan, advokasi isu sosial, atau sekadar menyuarakan ketidakadilan yang terjadi di sekitar.
Nggak harus turun ke jalan, meski itu juga sah. Bahkan obrolan kritis di lingkungan terdekat pun sudah punya dampak.
Yang penting, nggak diam. Karena demokrasi yang dibiarkan tanpa pengawasan akan pelan-pelan kehilangan maknanya.
Jadi Generasi yang Terlibat Demokrasi
Pada akhirnya, demokrasi bukan soal usia, jabatan, atau gelar. Demokrasi soal keterlibatan. Dan generasi muda punya semua modal untuk ikut menentukan arahnya.
Mau jadi penonton atau pemain, dua-duanya pilihan.
Tapi percaya, deh, masa depan akan lebih masuk akal kalau anak mudanya mau ikut turun tangan.
Suka bahasan ringan tapi relevan soal politik, gaya hidup, isu viral, dan hal-hal yang lagi ramai dibicarakan? Kamu bisa eksplor lebih jauh di pulsebriefs.com.
Siapa tahu, dari baca santai malah jadi makin peduli. Yuk, ikutan!






Leave a Reply